18 May 2017

:(

Di tengah rasa lelah yang tak lagi bisa di jumlah.
Ada banyak celah untuk sekedar membenarkan rasa menyerah.
Rasa kalah yang tak lagi bisa di olah.

Tapi hidup ini terus melaju,
meski jalan semakin berat karena tertutup salju.
Raga harus terus bergerak, meski kepala tak mengangguk tanda setuju.

Waktu nyatanya bisa membunuh.
Jika tak digunakan untuk sesuatu yang membuat penuh.
yang ada hanya jenuh.

:)

Tenggelam menikmati duka,
menikmati setiap sayatannya, setiap guratan,
hingga pada akhirnya terperosok semakin dalam.

Diam, meski pikirannya menggembara.
Jauh, menelusup ingatan dan perasaan sakitnya.
Entah untuk apa.

Ia hanya ingin.

Berteman dengan luka dan sakit.

Meski yang akan terlihat padanya
akan selamanya senyum dan tawa bahagia.

25 April 2017

Maju :)

Di suatu perenungan,
dia pernah kira dirinya salah jalan,
tapi aneh, tak pernah sedikitpun ada rasa sesal.

Dia memilih jalan sulit.
Atau mungkin, jalan itu memang bukan pilihan.
Karena jalannya selalu terarah.

Barangkali perjalanan sulit itu memang diperhadapkan,
untuk memaksanya berkembang,
membawanya melihat perjuangan orang-orang yang dia cintai,
memberikan kepadanya perasaan berguna.

Masih banyak yang harus dilakukan.
Seperti seorang liliput, dalam taman raksasa luas,
sedikit demi sedikit, mencoba mengukur dan memetakan taman.

Gentar,
tapi tak akan pernah mundur.

Melangkah,
meski harus merangkak.

Takut,
tapi tak akan pernah menyerah.

Karena dia tahu,
kekuatannya tak pernah berasal dari dirinya.

Kekuatan dan arahannya,
berasal dari Sang Ilahi,
Pencipta Alam Semesta.

:')

Banyak kali saya ingin bertanya, "Mengapa?"
Tapi pertanyaan itu sekuat hati saya tahan.
Saya yakin pertanyaan itu tak akan memberikan jawab,
hanya akan membuat perasaan bersalah dan rasa sesak.

Saya pikir, saya akan lebih butuh pencerahan,
daripada menyalahkan.

Menahan pertanyaan saya hanya sampai di hati,
ternyata membukakan mata saya pada kenyataan luar biasa.

Saya tak mengerti lagi, harus menyebutnya apa.

Sang Ilahi,
menganugerahkan saya begitu-sangat-banyak keberuntungan.

Bahkan salam situasi yang saya anggap buruk,
Saya merasakan begitu banyak keberuntungan,
seperti suatu jalan yang memang sudah terarah dan disiapkan.

Lalu, di saat itu, saya terhentak,
Masihkah saya layak mempertanyakan?

10 April 2017

Empat Bulan :)

Kami memulai pernikahan kami dengan banyak perbedaan.

Salah satunya, saya orang yang perfectionis dan ambisius, tapi Okta orang yang santai.
Apapun yang saya lakukan, saya selalu menuntut diri saya untuk mengerjakannya dengan sempurna,
hingga kadang kecewa sendiri kalau segala sesuatunya tak sempurna.
Tapi Okta yang santai, mengajarkan saya tentang bekerja saja dengan sebaik-baiknya, tetapi menyerahkan hasilnya pada Sang Pencipta.
Awalnya saya tak bisa terima, ketika hasil pekerjaan yang kami lakukan bersama-sama menjadi tak sempurna, ngomel sana, ngomel sini, tetapi lama, lama, perbedaan ini dapat kami kombinasikan dan berjalan beriringan, menghasilkan Okta dan Angel baru, yang lebih baik lagi.

Kemudian, saya juga selalu menuntut kecepatan waktu.
Ketika ada suatu pekerjaan, saya akan mengebut untuk mengerjakannya,
hingga terkadang lupa waktu dan setelah pekerjaan itu selesai, saya seringkali jadi jenuh.
Tapi Okta berbeda.
Gaya kerjanya yang santai, mengajari saya tentang ketekunan.
Pekerjaannya dikerjakan sedikit demi sedikit, tetapi terus menerus.
Pekerjaan yang saya lakukan dalam seminggu, mungkin Okta akan mengerjakannya dalam 2 minggu, atau bahkan 3 minggu, tapi setelah itu dia tetap melanjutkan dengan pekerjaan yang lain,
sedangkan saya, setelah 1 minggu, saya butuh istirahat panjang karena jenuh.
Awalnya saya bahkan tak paham, mengapa ada orang yang bisa begitu santai mengerjakan sesuatu.
tapi melihat ketekunannya, saya luluh. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dan kami kombinasikan untuk lebih baik lagi.

Masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang berhubungan dengan kepribadian kami.
Begitu banyak, hingga saya berpikir, kami memang dua orang yang sungguh-sungguh berbeda.

Lalu apa yang membuat kami menyatu?

Jawabannya, bukan cinta,
tapi komitmen.
Terutama komitmen untuk selalu mencintai pasangan yang sama.
Komitmen untuk menerima pasangan apa adanya.
Mau berusaha untuk kelangsungan hubungan kami.

Sedih juga, mendengar teman yang berpisah dengan alasan "tidak cocok",
karena saya sungguh yakin, dibalik kata "tidak cocok" itu, sebenarnya hanya ada "ketidakmauan berusaha".

Masih terlalu dini memang, baru empat bulan pertama,
apalah artinya jika dibandingkan dengan "selamanya".

Tapi semoga Oktangel bisa jadi pembuktian,
sebesar apapun perbedaannya,
seberat apapun masalahnya,
kita pasti akan mampu menghadapinya,
asalkan sama-sama mau berusaha,
dan tidak menyerah :)