03 February 2017

Tujuan Hidup

Di antara kelelahan yang sangat.
Seringkali saya merenung,
Kemana semua ini akan berlabuh.
Hilang arah.

Rutinitas padat dan tugas yang menumpuk,
Membuat saya menjadi manusia robot yang sangat saya benci.
Tujuan pun seolah lenyap.

Lalu muncul pertanyaan,
Apa yang sungguh kamu inginkan?
Untuk apa semua ini?

Pertanyaan yang terus menggaung hingga melemah dengan sendirinya,
Karena terlalu lelah tak menemukan jawabannya.

Kegundahan ini nyatanya didengar Sang Pencipta.

Di suatu minggu,
Ia mengingatkan dengan lembut,
Untuk menanyakan tujuan hidup pada-Nya.

Seharusnya tak perlu bersumber dari diri saya,
Tetapi semuanya harus dimulai dari Dia, Sang Pemberi Kehidupan.

Maka dengan sabar,
Saya ingin mencari dan menanti jawaban,
Tujuan apa yang disiapkan Sang Pencipta untuk saya lakukan.

Dan ketika tiba waktunya Sang Pencipta memberi jawab,
Saya ingin untuk turut saja,
Kemana Ia mengarahkan saya melangkah.
Karena mungkin hanya dengan pemenuhan tujuan itulah,
perjalanan hidup saya menjadi bermakna.
:')

Keluarga

Adalah sebuah keuntungan,
Dilahirkan dalam sebuah keluarga
Dengan saudara yang banyak.

Tak pernah merasa sendirian,
Tak pernah merasa tak punya teman untuk diajak pergi.

Suka duka selalu dapat dibagi,
Pekerjaan berat selalu bisa diselesaikan bersama.

Bersyukur,
Untuk setiap hal yang boleh dialami.

Merupakan sebuah berkat yang tak terkira,
Punya keluarga yang penuh cinta kasih.
Saling mendukung dan menguatkan, ketika yang seorang lemah.

Semoga cinta kasih ini tak memudar seiring jalannya waktu,
Dan tak bisa terhalangi oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

...

Di penghujung malam,
Pikiran ini masih tak bisa berhenti.
Ia berkelana menjalar dengan bebasnya,
Membuat mata sulit terpejam.

Bertumpu pada sebuah jengukan di rumah sakit,
Rasanya sedih,
Menyadari bahwa waktu begitu cepat melaju.

Yang terlihat muda dan gagah,
Kini tua dan renta.
Rambutnya memutih,
Sorot matanya sayu.

Yang terlihat kuat,
Kini terbaring lemas,
Jabat tangannya amelemah.

Seperti mimpi rasanya,
Sebentar menjadi anak-anak,
Kemudian dewasa,
Menjadi orang tua,
Dan kemudian mengakhiri perjalanan.

Memahami bahwa waktu akan berlalu begitu cepat,
Membuahkan pendalaman tentang seberapa kehidupan ini dipakai untuk memberi dampak bagi orang lain,
tak hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Bagaimana dalam kehidupan yang singkat,
Kita dapat memberi arti bagi kehidupan orang lain.

10 January 2017

Satu Bulan Pertama

Satu bulan pertama,
sejak saya berjanji menjadi pendamping Okta seumur hidupnya,
jadwal rutin saya berubah drastis,
si "tukang bangun siang" ini, kini belajar bangun pagi,
belajar masak, dan sarapan pagi.
Setelah beberapa pagi pertama, ketika saya masih terlelap,
Okta udah kelaperan tingkat dewa.

Satu bulan pertama,
belajar memahami "kehidupan baru",
dimana "rumah saya" kini berubah jadi "rumah mama / rumah papa"
dan saya punya "rumah baru" bersama Okta.

Satu bulan pertama,
belajar mencatat dan memperhatikan detail semua pengeluaran,
belajar mengingat di tempat mana yang murah untuk belanja sayuran,
setelah beberapa kali belanja di pasar kena dimahalin.

Satu bulan pertama,
saya baru menyadari,
Okta lebih kocak dari yang selama ini saya kenal.
Setiap hari saya tertawa,
dan saya selalu tertawa kalau mengingat kelakukannya,

Satu bulan pertama,
saya baru tahu, selama ini saya salah sangka,
saya pikir jika menikah, saya akan senang mengganggu Okta setiap hari,
tetapi ternyata saya yang diganggu setiap hari.
Ternyata tingkat ke-annoying-an Okta hampir selevel dengan adik saya.

Satu bulan pertama,
selalu bersama dengan partner kerja,
menghabiskan malam dengan membicarakan permasalahan yang terjadi,
membicarakan mimpi-mimpi besar kita,
menjadikan mimpi tersebut nyata, bersama-sama.

Satu bulan pertama,
membuat target-target kebiasaan baru yang harus dicapai,
saling mendukung dan menyemangati untuk mencapai target tersebut.

Satu bulan pertama,
bahagia menyadari bahwa saya akan bersama dengan orang baik seumur hidup saya.
Orang yang merawat saya ketika saya sakit,
Orang yang menghibur saya ketika saya menangis (sampai orangnya ketiduran sendiri)
Orang yang sangat gak so sweet, tapi memberikan segalanya untuk saya,
Orang yang gak pernah nuntut, karena menerima saya apa adanya.
Baginya, apapun yang saya lakukan untuknya adalah sebuah kemewahan.

Satu bulan pertama,
mengenal lebih dalam lagi,
saling berbagi,
saling menopang,
saling berbagi sukacita.

Satu bulan pertama,
semoga menuntun pada sejuta bulan lainnya yang penuh kebahagiaan :)

09 January 2017

Bulan madu di Pulau Ora

Impian saya no. 30, "Bulan madu ke pulau cantik di Indonesia" terwujud dengan indah,
lebih dari yang saya bayangkan.

Pada awalnya, kami (saya dan suami saya -Okta- ) bingung menentukan destinasi bulan madu, sempat juga saya lupa kalau punya impian nomor 30 yang saya tulis di diary saya.
Saya sempat mencari destinasi luar negeri seperti Eropa dan Jepang, sebelum akhirnya disadarkan oleh Okta kalau saya punya impian nomor 30 tersebut.

Setelah tersadar, saya mulai mencari tujuan-tujan bulan madu di Indonesia,
tapi saya tak ingin yang biasa seperti bali dan lombok,
saya ingin ke tempat cantik yang belum pernah saya singgahi.

Pilihan itu mengerucut pada Pulau Derawan, Pulau Ora, dan Raja Ampat.
Dan akhirnya kita memilih Pulau Ora, karena saya sangat suka laut, sedangkan Okta sangat suka gunung, dan Pulau Ora adalah perpaduan dari keduanya. Kami memutuskan berbulan madu di Pulau Ora dengan beberapa hari menghabiskan waktu juga di Ambon.

Kami pergi tanggal 11 Desember 2016,
tepat sehari setelah pernikahan kami di tanggal 10 Desember 2016.

Hari ke 1
Dimulai pukul 06.00 WIB, kami pergi ke airport dengan menggunakan grab car, dan melakukan penerbangan ke Bandar Udara Pattimura di Ambon dengan maskapai Garuda Indonesia. Jadwal keberangkatan pesawat, kami pilih di jam 08.15. Penerbangan Jakarta - Ambon memakan waktu sekitar 3 jam 40 menit. Kami tiba di Ambon pukul 13.55. Tiket penerbangan PP Jakarta - Ambon yang kami beli saat itu sekitar 6.900.000 untuk 2 orang.

Kami menunggu di jemput di salah satu cafe yang ada di Bandara. Selama di Ambon, rencananya kami akan diantar jemput oleh sepupu guru Inggris Okta (yang notabene orang Ambon). Rute selanjutnya dari bandara, adalah melintasi jembatan gantung yang baru dibangun, mampir di gong perdamaian, dan kemudian check in hotel di Ambon (kami memilih hotel Amaris). Setelah mandi dan beristirahat, pada sore hari sekitar pukul 19.00 WIT, kami dijemput untuk makan malam. Kami pergi ke tempat nasi kuning yang khas Ambon, kemudian berkeliling ke Lapangan Merdeka, Patung Christina Marta Tiahahu, dan kemudian ke jembatan gantung kembali, untuk melihat suasana disana pada malam hari, dimana jembatan tersebut disinari lampu yang berwarna-warni. Selesai berkeliling, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk perjalanan esok hari.










Hari ke 2
Kami dijemput pukul 09.00 WIT. Tujuan wisata utama adalah Pantai Liang. Pantai Liang merupakan pantai yang pernah dinobatkan oleh PBB menjadi pantai terindah di Indonesia pada tahun 1990. Perjalanan ke Pantai Liang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Untuk masuk ke dalam tempat wisata tersebut, ada retribusi yang perlu dibayarkan seharga 5000 rupiah.






Di area Pantai Liang, ada jembatan yang dapat digunakan untuk melompat ketika ingin berenang, untuk melihat pemandangan, atau sekedar berfoto. Di Pantai Liang ini, air laut yang jernih bergradasi dan awan yang menggulung, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Kami menghabiskan waktu untuk memandangi pemandangan ini kemudian beralih ke Desa Waai. Di Desa Waai, kami mengunjungi air terjun Waai & belut raksasa Morea. Setelah melihat belut, kami mengunjungi salah satu pemandian air panas yang terkenal di Ambon. Saya sempat berendam di pemandian air panas ini, rasanya sungguh enak.







Di perjalanan pulang kembali ke hotel, kami mampir ke restoran Lateri di Jl. Woltermonginsidi. Kami memilih bagian restoran yang ada di atas laut. Kebetulan bagian tersebut baru selesai dibangun dan dibuka untuk umum. Di restoran Lateri ini, kami memesan papeda (masakan khas Ambon) dengan ikan yang dimasak kuah kuning dan ikan bakar. Sangat nikmat. Makanan yang enak bercampur dengan suasana laut yang sepoy-sepoy. Setelah makan, kami kembali ke hotel.


Hari ke-3
Hari ini jadwal kami adalah ke Pulau Ora. Kami membeli paket berlibur 3 hari 2 malam ke Pulau Ora yang dibandrol seharga sekitar 7.800.000 untuk berdua. Kami dijemput dari pihak penginapan Ora Beach Resort pukul 07.00. Dengan perjalanan sekitar 1 setengah jam, kami diantarkan ke pelabuhan Tulehu. Dari pelabuhan ini, kami pun sudah dibelikan tiket VIP untuk naik ke kapal Express Pricillia menuju pelabuhan Amahai di Pulau Seram (Maluku). Kapal berangkat pukul 09.00 dan perjalanan laut ini menempuh waktu sekitar 2 jam.


Setiba kami di Pelabuhan Amahai, kami pun sudah dijemput oleh supir lain yang akan mengantar kami ke desa Saleman. Tetapi karena hari sudah menunjukkan waktunya makan siang, kami mampir untuk makan dulu di salah satu restoran yang ada di sana (Julie Seafood). Kemudian baru melanjutkan perjalanan. Area perjalanan kami, meliputi perjalanan seperti ke puncak, terjal, berliku-liku, dan ada di tengah hutan. Kami sangat menikmati perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam ini. Supir kami memberentikan mobilnya di sebuah pelabuhan kecil di Desa Saleman. Disana sudah tersedia boat-boat yang akan mengantar kami ke Pulau Ora. Perjalanan dengan speed boat, kami tempuh dalam waktu 5 menit.




Melihat Pulau Ora dari kejauhan, hati saya melonjak kegirangan. Pemandangan alam yang sungguh indah, membuat saya berulang kali berkata dalam hati, "Terima kasih, Tuhan kalau masih ada kesempatan ke sini".

Kami langsung disambut welcome drink dan penyerahan kunci kamar dari pihak receptionis hotel ketika tiba di Ora beach resort, satu-satunya resort di Pulau Ora, tempat kami menginap.
Kami pesan kamar laut dan kami mendapatkan kamar nomor 106 (kamar ke 2 dari ujung). Segera kami bergegas ke kamar, melewati jembatan yang dibangun di atas laut. Rasanya sungguh menyenangkan.







Setiba di kamar, saya banyak menghabiskan waktu di teras. Karena bagian teras dari kamar laut kami, langsung berhadapan dengan laut. Saya sungguh bersyukur bisa tiba di tempat ini dan merasakan semua ini. Pada bagian teras, ketika kami menghadap ke bawah, di dalam laut pun terlihat karang karang dan biota laut yang hidup di bawah.






Kami cukup betah di kamar, sampai tiba saatnya untuk makan malam. Kami pergi menuju restoran apung karena pihak Ora beach resort sudah menyediakan makan malam disana. Setelah makan malam, kami kembali ke kamar, bersantai di teras, kemudian beristirahat.

Hari ke-4
Memasuki hari ke 2 di pulau Ora, air laut di pagi ini sangat surut. Kami mengawali dengan makan pagi di restoran, kemudian bersiap untuk snorkling. Pagi ini, pukul 09.00, kami sudah ditunggu oleh Bapak speed boat yang kemarin mengantarkan kami ke Ora beach resort. Pukul 09.00 pagi, kami memulai tour kami dengan speed boat ke tebing batu. Seperti namanya, tebing batu adalah tempat wisata dimana kami bisa melihat tebing batu yang super besar dan menawan. Kami snorkling di tebing batu ini (alat snorkling kami pinjam dari pihak penginapan dengan membayar sewa sebesar 100.000/orang). Dari tebing batu, kami diantar ke pesisir pantai di dekat Ora beach resort. Di sana kami juga snorkling. Kemudian kami diantar ke Mata Air Belanda.





Di Mata Air Belanda, kami dapat melihat air yang terus mengalir dari tengah hutan, menuju ke laut. Air ini sangat dingin. Tapi sangat jernih dan segar. Saya pun tak tahan untuk mencoba mandi disana. Pemandangan di Mata Air Belanda ini pun sangat indah. Hamparan pantai, hutan, dan gunung yang menjadi satu kesatuan. Kami memesan teh hangat dan indomie, di satu-satunya warung yang ada disana. Nikmat.











Kami ada di Mata air Belanda ini sampai kira-kira waktu makan siang pukul 12.00. Karena saat makan siang ini, kami kembali ke Ora Beach Resort untuk makan siang. Setelah makan siang, kami mandi dan beristirahat sebentar. Menjelang sore hari, kami keluar untuk bermain di bagian pantai. Tadinya kami berencana untuk snorkeling di sekitar pantai, tapi ternyata sore hari ini, ombak air laut di bagian tengah laut sedang kencang dan membuat airnya menjadi keruh, jadi kami tak bisa snorkling. Ya sudah, kami menghabiskan waktu dengan bermain air di bagian pantai.

Saya senang ketika mengambang di laut. Seketika saya merasa sungguh kaya, bisa berenang di kolam seluas laut, dan ketika mengambang, saya melihat pemandangan gunung di sekeliling pantai. Sungguh terharu. Sungguh bersyukur diberi tanah air seindah ini. Tak salah punya cita-cita berbulan madu di pulau cantik Indonesia. Walaupun harga perjalanan ini mungkin setara keluar negeri, tapi kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar.


Semakin sore, ombak di dekat penginapan kami (bukan di bagian pantai nya) semakin besar. Air laut pun meninggi cukup drastis dibandingkan pagi harinya. Ada kabar pula bahwa air laut masuk ke kamar sebelah kami. Cukup deg-degan, di pikiran saya, ombak air laut akan semakin besar dan menyeret penginapan kami. Tapi semakin malam, setelah kami makan malam, sepertinya air laut sudah agak menyurut sedikit. Pihak hotel membebaskan kami, jika ingin pindah kamar ke kamar darat (bukan di kamar laut), tapi Okta bilang, inilah sensasinya tinggal di kamar laut. Merasakan dan mendengar dengan jelas setiap deburan ombak yang mengenai tiang-tiang penginapan kami, dan menabrak tebing tepat di belakang penginapan kami. Alhasil kami menghabiskan waktu di teras lagi, kemudian beristirahat. Untungnya tak ada hal buruk yang terjadi.

Hari ke-5
Pagi ini, air laut sangat surut kembali. Tenang. Sungguh berbeda dengan air laut yang kemarin malam. Jadwal pagi ini adalaha kami sarapan di restoran, kemudian balik dengan speed boat ke Desa Saleman, dari sana akan dijemput kembali ke Pelabuhan Amahai, dan naik kapal lagi ke Pelabuhan Tulehu, serta diantarkan kembali ke hotel kami di Ambon. Kami kembali memilih Hotel Amaris.



Perjalanan dari Ora beach resort kembali ke hotel Amaris memakan waktu sekitar satu hari, kami tiba di hotel Amaris sudah sore. Setelah mandi dan beristirahat, kami jalan-jalan ke sekitar hotel. Okta membeli nasi dengan lauk daging anjing (yang katanya lezat) sebagai makan malam. Sedangkan saya masih merasa kekenyangan akibat makan siang di Pulau Seram pada siang harinya.

Hari ke-6
Hari ini kami kembali ke Jakarta. Kami dijemput Bapak supir yang sama seperti hari pertama kami, pukul 11.00, kemudian kami ke tempat oleh-oleh sebentar, lalu langsung ke Bandara. Agak kepagian, kami mencari restoran di dalam bandara untuk makan siang, kemudian menunggu sampai waktunya agak mendekati jam penerbangan, kemudian kami menuju ke gate penerbangan. Kami kembali ke Jakarta dengan pesawat Garuda Airlines juga. Di Jakarta, kami dijemput oleh keluarga saya.

Bulan madu yang sangat indah. Sederhana, kembali ke alam. Tapi memberikan rasa bahagia yang maksimal kepada kami.

Bersyukur untuk setiap keindahan yang pada akhirnya jadi kenangan manis.
Terlalu menawan.
Terlalu memikat hati.

#OktangelLoventure





Catatan tambahan : Kalau ada teman-teman yang mau berlibur ke Pulau Ora, bisa menghubungi saya jika butuh bantuan informasi, dengan senang hati saya akan membantu :)