10 April 2017

Empat Bulan :)

Kami memulai pernikahan kami dengan banyak perbedaan.

Salah satunya, saya orang yang perfectionis dan ambisius, tapi Okta orang yang santai.
Apapun yang saya lakukan, saya selalu menuntut diri saya untuk mengerjakannya dengan sempurna,
hingga kadang kecewa sendiri kalau segala sesuatunya tak sempurna.
Tapi Okta yang santai, mengajarkan saya tentang bekerja saja dengan sebaik-baiknya, tetapi menyerahkan hasilnya pada Sang Pencipta.
Awalnya saya tak bisa terima, ketika hasil pekerjaan yang kami lakukan bersama-sama menjadi tak sempurna, ngomel sana, ngomel sini, tetapi lama, lama, perbedaan ini dapat kami kombinasikan dan berjalan beriringan, menghasilkan Okta dan Angel baru, yang lebih baik lagi.

Kemudian, saya juga selalu menuntut kecepatan waktu.
Ketika ada suatu pekerjaan, saya akan mengebut untuk mengerjakannya,
hingga terkadang lupa waktu dan setelah pekerjaan itu selesai, saya seringkali jadi jenuh.
Tapi Okta berbeda.
Gaya kerjanya yang santai, mengajari saya tentang ketekunan.
Pekerjaannya dikerjakan sedikit demi sedikit, tetapi terus menerus.
Pekerjaan yang saya lakukan dalam seminggu, mungkin Okta akan mengerjakannya dalam 2 minggu, atau bahkan 3 minggu, tapi setelah itu dia tetap melanjutkan dengan pekerjaan yang lain,
sedangkan saya, setelah 1 minggu, saya butuh istirahat panjang karena jenuh.
Awalnya saya bahkan tak paham, mengapa ada orang yang bisa begitu santai mengerjakan sesuatu.
tapi melihat ketekunannya, saya luluh. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dan kami kombinasikan untuk lebih baik lagi.

Masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang berhubungan dengan kepribadian kami.
Begitu banyak, hingga saya berpikir, kami memang dua orang yang sungguh-sungguh berbeda.

Lalu apa yang membuat kami menyatu?

Jawabannya, bukan cinta,
tapi komitmen.
Terutama komitmen untuk selalu mencintai pasangan yang sama.
Komitmen untuk menerima pasangan apa adanya.
Mau berusaha untuk kelangsungan hubungan kami.

Sedih juga, mendengar teman yang berpisah dengan alasan "tidak cocok",
karena saya sungguh yakin, dibalik kata "tidak cocok" itu, sebenarnya hanya ada "ketidakmauan berusaha".

Masih terlalu dini memang, baru empat bulan pertama,
apalah artinya jika dibandingkan dengan "selamanya".

Tapi semoga Oktangel bisa jadi pembuktian,
sebesar apapun perbedaannya,
seberat apapun masalahnya,
kita pasti akan mampu menghadapinya,
asalkan sama-sama mau berusaha,
dan tidak menyerah :)

03 February 2017

Tujuan Hidup

Di antara kelelahan yang sangat.
Seringkali saya merenung,
Kemana semua ini akan berlabuh.
Hilang arah.

Rutinitas padat dan tugas yang menumpuk,
Membuat saya menjadi manusia robot yang sangat saya benci.
Tujuan pun seolah lenyap.

Lalu muncul pertanyaan,
Apa yang sungguh kamu inginkan?
Untuk apa semua ini?

Pertanyaan yang terus menggaung hingga melemah dengan sendirinya,
Karena terlalu lelah tak menemukan jawabannya.

Kegundahan ini nyatanya didengar Sang Pencipta.

Di suatu minggu,
Ia mengingatkan dengan lembut,
Untuk menanyakan tujuan hidup pada-Nya.

Seharusnya tak perlu bersumber dari diri saya,
Tetapi semuanya harus dimulai dari Dia, Sang Pemberi Kehidupan.

Maka dengan sabar,
Saya ingin mencari dan menanti jawaban,
Tujuan apa yang disiapkan Sang Pencipta untuk saya lakukan.

Dan ketika tiba waktunya Sang Pencipta memberi jawab,
Saya ingin untuk turut saja,
Kemana Ia mengarahkan saya melangkah.
Karena mungkin hanya dengan pemenuhan tujuan itulah,
perjalanan hidup saya menjadi bermakna.
:')

Keluarga

Adalah sebuah keuntungan,
Dilahirkan dalam sebuah keluarga
Dengan saudara yang banyak.

Tak pernah merasa sendirian,
Tak pernah merasa tak punya teman untuk diajak pergi.

Suka duka selalu dapat dibagi,
Pekerjaan berat selalu bisa diselesaikan bersama.

Bersyukur,
Untuk setiap hal yang boleh dialami.

Merupakan sebuah berkat yang tak terkira,
Punya keluarga yang penuh cinta kasih.
Saling mendukung dan menguatkan, ketika yang seorang lemah.

Semoga cinta kasih ini tak memudar seiring jalannya waktu,
Dan tak bisa terhalangi oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

...

Di penghujung malam,
Pikiran ini masih tak bisa berhenti.
Ia berkelana menjalar dengan bebasnya,
Membuat mata sulit terpejam.

Bertumpu pada sebuah jengukan di rumah sakit,
Rasanya sedih,
Menyadari bahwa waktu begitu cepat melaju.

Yang terlihat muda dan gagah,
Kini tua dan renta.
Rambutnya memutih,
Sorot matanya sayu.

Yang terlihat kuat,
Kini terbaring lemas,
Jabat tangannya amelemah.

Seperti mimpi rasanya,
Sebentar menjadi anak-anak,
Kemudian dewasa,
Menjadi orang tua,
Dan kemudian mengakhiri perjalanan.

Memahami bahwa waktu akan berlalu begitu cepat,
Membuahkan pendalaman tentang seberapa kehidupan ini dipakai untuk memberi dampak bagi orang lain,
tak hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Bagaimana dalam kehidupan yang singkat,
Kita dapat memberi arti bagi kehidupan orang lain.

10 January 2017

Satu Bulan Pertama

Satu bulan pertama,
sejak saya berjanji menjadi pendamping Okta seumur hidupnya,
jadwal rutin saya berubah drastis,
si "tukang bangun siang" ini, kini belajar bangun pagi,
belajar masak, dan sarapan pagi.
Setelah beberapa pagi pertama, ketika saya masih terlelap,
Okta udah kelaperan tingkat dewa.

Satu bulan pertama,
belajar memahami "kehidupan baru",
dimana "rumah saya" kini berubah jadi "rumah mama / rumah papa"
dan saya punya "rumah baru" bersama Okta.

Satu bulan pertama,
belajar mencatat dan memperhatikan detail semua pengeluaran,
belajar mengingat di tempat mana yang murah untuk belanja sayuran,
setelah beberapa kali belanja di pasar kena dimahalin.

Satu bulan pertama,
saya baru menyadari,
Okta lebih kocak dari yang selama ini saya kenal.
Setiap hari saya tertawa,
dan saya selalu tertawa kalau mengingat kelakukannya,

Satu bulan pertama,
saya baru tahu, selama ini saya salah sangka,
saya pikir jika menikah, saya akan senang mengganggu Okta setiap hari,
tetapi ternyata saya yang diganggu setiap hari.
Ternyata tingkat ke-annoying-an Okta hampir selevel dengan adik saya.

Satu bulan pertama,
selalu bersama dengan partner kerja,
menghabiskan malam dengan membicarakan permasalahan yang terjadi,
membicarakan mimpi-mimpi besar kita,
menjadikan mimpi tersebut nyata, bersama-sama.

Satu bulan pertama,
membuat target-target kebiasaan baru yang harus dicapai,
saling mendukung dan menyemangati untuk mencapai target tersebut.

Satu bulan pertama,
bahagia menyadari bahwa saya akan bersama dengan orang baik seumur hidup saya.
Orang yang merawat saya ketika saya sakit,
Orang yang menghibur saya ketika saya menangis (sampai orangnya ketiduran sendiri)
Orang yang sangat gak so sweet, tapi memberikan segalanya untuk saya,
Orang yang gak pernah nuntut, karena menerima saya apa adanya.
Baginya, apapun yang saya lakukan untuknya adalah sebuah kemewahan.

Satu bulan pertama,
mengenal lebih dalam lagi,
saling berbagi,
saling menopang,
saling berbagi sukacita.

Satu bulan pertama,
semoga menuntun pada sejuta bulan lainnya yang penuh kebahagiaan :)