12 March 2011

Saya kecewa!

Saya memilih untuk tidak bahagia,
Meski serasa ditertawai lampu jalanan.
Saya memilih untuk masuk dalam sedih.
Berteman dengan air mata dan sayap-sayap patah setiap malam.

Kebutuhan akan kasih sayang dan pengertian itu tak lagi terpenuhi,
Padahal mendasar.
Saya hampir gila.

Sudah terpikirkan,
Lebih baik hadapi gamparan
Daripada sakit jiwa memendam semua.
Apa daya,tubuh terlalu pengecut untuk menghadapi dan menerima luka.

Lalu hari saya jadi hancur,
Sehancur kebanggaan dan seluruh harapan saya pada mereka.

Diluar dugaan,
Pikiran mereka sangat jahat,
Memfitnah saya dalam pikirannya,
Membuat saya dengan gambaran yang sedemikian buruk.

Mereka salah, tetapi berpikir benar,
Dengan arogan memaki, menyakiti, menghancurkan.
Dan yang lebih parah, seakan mengukuhkan kekurangajaran,
yang seharusnya menerima ganjaran.
Mereka membenarkan yang salah.

Saya tak bisa terima,
Tapi hak bicara direbut.
Suara tak lagi mau di dengar.
Perasaan tak lagi dipedulikan.

Padahal saya bukan robot,
Saya manusia,
Punya rasa, punya cita-cita.
Tapi pribadi saya dimatikan.
Saya jadi tidak penting,
Yang penting adalah karyanya selesai,
Tak peduli bagaimana hancurnya saya malam itu.
Hati saya sakit.

secara nyata saya difitnah dalam pikiran mereka.
Lalu tak diberi waktu untuk menjelaskan.

Saya benci,
Tapi bukan benci mereka. :(
Saya benci seluruh sistem busuk yang melegalkan kejahatan.
Padahal mereka juga manusia yang tak ingin dijahati.

Dimana letak keadilan?

Baik, saya diam.
Saya tetap tidak terima.
Bagaimanapun hati saya hancur.
Harapan saya hancur.
Saya tak lagi percaya.
Dan perasaan itu terlampiaskan lewat air mata yg selalu menetes
menemani malam-malam saya.

Mereka?
Tetap tak peduli dalam kedudukannya yang dianggap maha benar.

1 comments:

Metamorphosis said...

Weitz...
kalian ini ternyata sastrawan2 dunia maya ya...
ckckck.......................