01 March 2016

Oktangel ♥

"Kamu tak perlu jadi pahlawan untuk dicintai,
karena orang yang mencintai kamu, akan membuat kamu menjadi pahlawan"
Kalimat dari film Deadpool ini merangkum sebagian besar hal yang terlintas di kepala saya,
membantu saya untuk menterjemahkan apa yang sudah lama ingin saya utarakan.

Sepuluh setengah tahun yang lalu,
secara tak sengaja, garis kehidupan kami bertemu.
Saling melintang, tepatnya di sebuah acara camping pramuka.

Dia datang dari cabang pramuka lain, yang kebetulan diajak oleh pembina pramuka saya,
Kamu tahu, saya selalu tertarik dengan pria yang bisa mengalahkan saya,
dan kali itu, dia mengalahkan saya.
Secara status, dia ada satu tingkat diatas saya, dia penegak, dan saya masih penggalang.
Menarik.
Saya tertarik.

Sosok pemimpin yang saya lihat dalam dirinya begitu menonjol,
dibalut sifat bersahaja dan humoris.
Tapi saat itu saya hanya bisa diam,
karena teman dalam regu saya membicarakan dan menyukai dia.

Dalam perjalanan pulang dari camping,
kebetulan kami berada dalam satu angkot yang sama.
Saya merasa ditatap dari sebelah kiri.
Lalu saya menoleh, dan ternyata dia.
Tatapan yang begitu dalam, tatapan yang masih saya ingat sampai sekarang.
Saya merasa tertantang, saya balas menatap,
biasanya orang yang ketahuan menatap saya, akan malu dan membuang pandangannya,
tapi dia tetap tak bergeming, terus menatap dan lama.

Sial, dalam hati saya.
Mengapa saya yang jadi canggung, padahal saya yang ditatap duluan.
Saya mengalihkan pandangan, tak mau lagi menatap.
Acara itu berakhir tanpa kami saling bertukar kontak.

Kemudian pada latihan-latihan pramuka berikutnya,
saya jadi terus menantikan dia datang,
padahal cabang pramuka kami berbeda.
Dan yaa, setelah camping itu,
memang dia jadi sering datang.

Melihatnya datang membuat saya tetiba tersenyum sendiri,
walaupun tak selalu ada kesempatan bercakap,
tapi melihatnya saja membuat senang.

Entah pertemuan ketiga atau keempat,
setelah selesai latihan pramuka, kami main basket dan setelah itu ngobrol.
Disanalah teman-temannya dan saudaraku beraksi.
Teman-temannya berteriak "Eh, dia mau tau nomor telepon kamu berapa nih..."
Saya diam saja dan tersenyum.
Tapi saudara saya yang jahil itu langsung menyebutkan nomor telepon saya.
Dia buru-buru mencatat.
Kemudian dia bilang.. "Nomor telepon aku, 0856 xxx xxx" sambil tertawa.
Saya balas tertawa, padahal dalam hati ingin juga tahu nomornya, tapi gengsi. -,-"

Hari itu juga,
setelah pulang dari latihan pramuka,
saya sedang ada di balik selimut saat ada pesan yang masuk.
"Hai ini Okta, aku ganggu gak?"
HAHAHAHAHA!
Kamu tau?
ini sms PERTAMA yang bisa bikin saya loncat dari ranjang dan nari-nari kegirangan di kamar.
Rasanya itu hal terbahagia yang pernah saya rasakan.

Kami sms-an, cuma 3 kali berbalasan, lalu pulsanya habis!
HAHA! Memang odong!
Setelah kami jadian, saya baru tahu kalau saat itu dia juga sangat senang mendapatkan nomor saya,
sehingga tanpa pikir panjang langsung sms tanpa melihat pulsanya.

Setelah hari itu, kami semakin dekat.
Menjelang tengah malam di tanggal 11 September 2005,
Dia mengirim pesan di sela-sela pembicaraan kita,
"Kamu mau aku jadi cowo kamu?"
Pertanyaan tricky! Dia ngga bilang "Kamu mau ngga jadi cewe aku?"
Saya merasa menghadapi pertanyaan yang lebih memberikan kebebasan.

Begini, "Kamu mau ngga jadi cewe aku?" hanya memberikan 2 kemungkinan jawaban, ya atau ngga.
Tapi ketika ditanya "Kamu mau aku jadi cowo kamu?" saya merasa diberi kebebasan untuk memilih.
Memilih siapa pria yang tepat untuk saya. Entah dia, entah bukan.
Jujur, saat itu saya memang dekat dengan beberapa pria.

Sulit untuk langsung menjawab "iya,"
karena saya sadar sebagian hati saya masih ada di antah berantah.
Belum balik sepenuhnya, karena sebelumnya baru saja pecah berkeping-keping.
Sebagian hati saya itu terjebak dalam zona "tak mau peduli dan percaya cinta".
Saya menjelaskan perasaan ini padanya, dan dia mengerti.

Saya bilang, mungkin perasaan cinta saya baru sekitar 60% kepadanya,
dan dia tak mempermasalahkannya.
Cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan, katanya.
Dan dia terus menanti hingga perasaan saya bisa balik 100%.
Kami melandasi hubungan ini dengan doa.

Yang pasti ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam kebersamaan selama lebih dari sepuluh tahun.
Saya masih ingat moment disaat dia belum punya mobil,
kemana-mana kita naik motor.
Dengan rela dia mau mengantar saya ke kampus (kira-kira perjalanan 2 jam),
dan kemudian setelah saya selesai kelas, kami balik bareng lagi (perjalananan 2 jam juga).
Dia mengajarkan saya ketulusan yang gak bisa dibayar pakai uang.

Pernah sekali waktu saat naik motor,
tiba-tiba hujan dan kami menepi di pinggir jalan.
Saat itu saya mau pergi ke pesta ulang tahun kakak angkat saya,
tapi ternyata celana saya kebasahan, dan saya mengurungkan niat untuk datang ke pesta,
Kami lalu menepi di warung indomie, memesan indomie serta roti bakar dan jus alpukat.
Pertama kalinya dalam hidup saya, saya makan di warung pinggir jalan, ditemani hujan.
Tapi saya merasa bahagia. Sangat bahagia.

Pernah juga kami kehujanan saat di motor.
Tiba-tiba hujan turun begitu deras,
kami berteduh di bawah pohon,
tetapi polisi yang kebetulan lewat menyuruh kami meyingkir dari sana,
karena takut pohon tersebut tumbang.
Jakarta saat itu banjir.
Kami menerobos hujan mencari tempat berteduh lainnya,
cukup lama kami menunggu, tetapi hujan tak kunjung berhenti.
Kami mengambil keputusan untuk menerjang hujan untuk pulang.

Itulah kali pertama dalam hidup saya, saya kehujanan.
Ibu saya selalu marah kalau saya main hujan, karena itu saya tak pernah merasakan kehujanan.
Saat itu saya sangat kedinginan, tapi moment itu selalu hidup dalam ingatan saya.
Kesederhanaan yang lucu, ia membawa kebahagiaan.

Maka ketika salah seorang anggota keluarga - diluar keluarga inti saya, tetapi masuk dalam daftar anggota keluarga yang dituakan-
tiba-tiba mengatakan..."Kamu gak usah sama dia ya.."
dengan alasan karena dia hanya punya motor, karena dia kurang dalam hal materi,
sesungguhnya saya sama sekali tak peduli.
SAMA SEKALI.

Bukan bermaksud untuk tidak patuh,
Tapi saya tak pernah menganggap uang itu segalanya,
tentang ini, pernah saya tulis di sebuah postingan disini
Saya percaya, hasil / materi akan mengikuti apa yang kita lakukan.

Memang ada orang-orang yang terlahir kaya, dan kekayaannya turun-temurun,
tapi saya orang yang sangat menghargai proses & perjuangan.
Bagi saya adalah lebih baik berusaha dari nol,
karena toh saya sadar, saya pun bukan orang kaya,
kerja keras sudah menjadi etos kerja hidup saya.

Saya ingin berjuang bersama, bukan menjadikan pasangan saya sebagai atm berjalan.
Kamu tahu nikmatnya berusaha bersama dari nol? Tidak ada tandingannya, teman.
Kami jadi lebih menghargai setiap proses kehidupan yang kita lakukan bersama.
Saling menopang ketika salah satunya lemah.
Saling menyemangati, saling mendoakan.

Nyatanya, banyak hal yang membuat saya lebih bahagia daripada sekedar materi,
dan saya mengatakan ini karena saya sudah benar-benar merasakannya bukan hanya karangan belaka.

Bagi saya, yang terpenting adalah hati, bukan materi.
Saya menjalani hubungan karena ingin berkolaborasi, bukan mau ber-parasit.
Bukan karena saya merasa ada yang kurang, ada yang harus dilengkapi, bukan.

Tanpa dia, saya sudah utuh. Tanpa saya, dia pun utuh.
Tapi kami menjalin hubungan, agar yang utuh-utuh tersebut menghasilkan karya yang keren karena berkolaborasi.

Saat ini, masalah tersebut sudah lewat jauh.
Hubungan kami sudah naik tingkat lagi.

Bohong kalau selama lebih dari sepuluh tahun kami selalu adem ayem.
Ada banyak permasalahan yang terjadi.
Ketidakpercayaan, kesalahpahaman, kegagalan, sakit hati, dan lain sebagainya.
Tapi saya sungguh percaya, ketika dua orang ingin selalu bersama,
dan menyerahkan hubungannya pada Tuhan,
pasti akan selalu ada jalan yang terbaik.

Saat ini saya ingin bersyukur untuk semua jalan terbaik itu.
Mensyukuri kebersamaan kami.
Mensyukuri kehadirannya dalam hidup saya.

Dia selalu mengajarkan begitu banyak hal berharga yang tak ternilai,
penerimaannya selalu membuat saya nyaman dalam ketidaksempurnaan,
dan menjadi tempat dimana saya selalu bisa merasa pulang, kembali menjadi diri saya sendiri.

Saya merasa dicintai sepenuhnya.
Dan, yaaa benar!
"Kamu tak perlu jadi pahlawan untuk dicintai,
karena orang yang mencintai kamu, akan membuat kamu menjadi pahlawan" 

7 comments:

Anonymous said...

Mantabbb...

madeline tioria said...

ci angel postingnya selalu bagussss<3

Angelia Stephanie said...

@Madeline : Haii Made, thank you commentnyaa :3 thank you udah bacaaa.. :)

Philip Natawigena said...

Saya ikut bahagia .... Saat liat Okta dan Angel bahagia... Selamat.

Angelia Stephanie said...

@Pak Philip: waahh, makasi banyak Pak :)

Michelle Susanto said...

Ahhh co cwittt bikin bukunya donkkkkk

Michelle Susanto said...

Bikin bukunya kakkkk