19 April 2018

. . . . .

Seorang gadis berjalan dengan langkah gontai.
Ia berusaha sekuat tenaga melambaikan tangan,
kepada orang-orang yang ikut tersenyum melihat topeng senyumnya.

Semakin lama, kakinya semakin susah digerakkan.
Tenaganya semakin menipis.
Pada akhirnya ia kewalahan dan menepi,
dalam gelap malam yang semakin pekat.

Di balik gang sempit yang tak berpenghuni,
tangannya bergetar melepas topengnya.
Air mata tak bisa lagi dibendungnya.
Ia menangis sejadi-jadinya.

Tubuhnya sakit tertusuk dinginnya angin malam yang menyengat,
Sesakit batinnya yang lelah.
Lelah pura-pura tegar,
Lelah pura-pura bahagia.

Mengapa hanya karena mencintai seseorang,
kita bisa terluka sangat dalam?
dan merasa begitu bersedih?

Tolol! Bego!
Ia memaki dirinya sendiri.
Tersesat dalam jalan yang ia anggap sebagai tujuan.

Ia mendekap erat tubuhnya sendiri,
seakan bisa mengurangi rasa sakit hatinya yang tersayat-sayat.

Hanya dalam gelap malam,
ia bisa menumpahkan kesedihannya.
Sebab esok, ketika matahari menunjukkan cahayanya,
Ia akan tetap memakai topeng senyum,
menutupi semua dan berkata "Aku bahagia"
hingga tak ada orang yang tahu betapa perih lukanya.

2 comments:

Dhido Gold D. Dhido said...

Kamu terperangkap dlm sangkar ...seperti burung yg berkicau seakan dia senang padahal dia ter kekang tiada nyaman karena sejatinya dia ingin bebas menjel
Ajah mengikuti angin yg bertiup bebas lepas

Angelia Stephanie said...

Halo! Btw ini bukan "saya". hanya mengasumsikan, setelah ngeliat seseorang :)